Archive for August, 2006

|| Talking To GOD ||

Sunday, August 13th, 2006

  :: to nat and guy ::

Talking To God

When I was eighteen, I toke a camping trip to forest with my friends in Tawang Mangu. Once, My Uncle – Hussein Mulachela said that forest will gave you a mystical experience. And I said to my mother that I was hoping for the mystical things happened that day. She knew that I had an intimate relationship with nature. When the Log Lady in Twin Peaks talked to her log, I didn’t surprise. I think it’s normal to have such relationship. I do sometimes talk to my trees while pouring water on it. Or even say ‘hello’ to rain when they falling down to earth. I believe it’s just one in million ways of talking to God.

Two years ago, I met a guy in Yogyakarta – his name is Muhammad Quraishi Vat’aq. He is a painter. He said, ‘Art is a way to talk to God.’ And then he added, ‘And silence too.’ The words he said, reminds me of my twelve’s birthday, when my best friend gave me a new diary book and she wanted me to write more stories about my self. Since writing is a lonely profession, and I consider that writing is an art, I think I can meet God thru words. Suddenly (there is no ‘sudden’ in this world) books, papers, pens, sketch-books, are my life’s companion that flowing with me and made a journal writing as a spiritual quest.

As my spiritual experiences burst thru writing process, I never expected that any condition like LSD would bring me to God. Though, music for several times ever brought me in to that highland. Though, for a young women like me, I could never went a way from home in such a long time like most Hippies did in Janis Joplin’s time. I guess, writing is one in million ways to meet Him.

This was not the first time anything about art, life, nature, or writing struck me with the maximum force (Sometimes I called it a mana. Mana is a hidden or secret force which operates silently and invisibly in things and persons that are in some way especially powerful, impressive, and it can be used both in positive and negative way). And these kind of force that backing me up to keep writing as routine ritual everyday. Almost like a namaz (Pray/Shalat), it’s just the way I choose to meet Him. Is this lead to religion?

Religion is not something that one can see. It has experiential dimension that one cannot deny the relationship between experience and doctrine. Not just Islam, but other religions like Buddhism, Hinduism, Judaism, Christianity, and Paganism touched me very deeply. Otherwise, I will not change my last name into ‘Vyasa’ – the author of Mahabharata. Yes, I changed my name about several years ago. Writing has been my daily routine activity, my spiritual ritual, a quest, a journey to the Higher Self, and every time I wrote, I felt His Presence. And this is religion – my religion. I think, Islam and other religions in whole world are not just about praying to God, fasting, and charity. We must not forget the main theme in being religious: (that is) to get to know what is ‘GOD’ today, tomorrow, and even yesterday. Is He the same GOD we worship in our five-time prayers? Is He the same God we got scared if we lie on someone?

God is not just the Sun to be thought or looked at. Talk to Him, feel the breeze of His Lights, His Presence in rain, cloudy days, happiness, and sorrow. And writing is the main ritual in my Personal Religion. Therefore, I believe religion is just one in million ways of talking to God.

Valhalland, August 11th, 2006

:: KEMATIAN ::

Sunday, August 13th, 2006

Kematian adalah satu-satunya jalan pembebasan untuk mencapai kebahagiaan sempurna. Hakikat kematian adalah terpisahnya ruh dari badan. Hubungan ruh dengan badan berkaitan dengan bentuk seutuhnya. Ia memiliki peran penting bagi badan secara sempurna. Kematian, tentu saja terjadi atas izin Allah SWT.

Kematian: Tempat Terbaik1

Sungguh ‘kematian’ adalah kata yang sensasional dan menakutkan! Sekadar menyebutkannya saja, hati menjadi terkoyak, senyum minggat dari bibir, dan rasa senang segera sirna, karena ia menimbulkan kekhawatiran, depresi, serta mendorong segala bentuk pemikiran kusut.

Hidup dan mati tak dapat dipisahkan. Andai tiada kehidupan, tidak mungkin ada kematian. Oleh karena itu, kematian harus ada supa hidup memiliki makna. Segala sesuatu, baik bintang yang paling besar di langit maupun partikel terkecil di muka bumi – bebatuan, tumbuhan, binatang – sepat atau lambat akan hancur. Semua itu diadakan satu per satu akan dikembalikan ke alam ketiadaan. Semuanya akan berubah menjadi debu dan sirna.

Dengan kematian, api nafsu yang berkialau dan kesemrawutan menghilang. Semua peperangan, perselisihan, dan pembunuhan di kalangan manusia akan berakhir. Keganasan, konflik, serta pemujaan diri mereka surut di kedalaman tanah yang dingin dan lubang sempit kuburan. Bila kematian tidak ada, pasti manusia akan merindukannya. Betapa kehidupan terasa menakutkan dan menyakitkan jika tiada akhir.

Kematianlah yang meletakkan fisik bungkuk kita, wajah keriput dan badan kita yang merana ke tempat peristirahatan. Kematian mengurangi kesedihn dan duka kehidupan. Kau bagaikan seorang ibu pengasih yang memeluk dan membelai anaknya, lalu menidurkannya selepas badai. Seringkali kau berbeda dari kehidupan yang terkadang pahit dan kejam. Berbeda dengan kehidupan yang sering menyeret kita pada kesesatan dan kebejatan moral, lalu melemparkannya ke pusaran air dosa yang mengerikan.

Manusia telah menciptakan citra dirimu yang mengerikan, padahal kau adalah malaikat yang muli, dianggap sebagai iblis yang mengamuk. Mengapa mereka takut padamu? Mengapa mereka menganggapmu sebagai kegelapan, padahal kau adalah cahaya yang memancar. Kau adalah keberuntungan tetapi mereka berkabung dengan jerit tangis, duka, dan ratapan. Kaulah pembuka pintu harapan bagi kaum yang tidak memiliki harapan. Kau patut mendapat pujian. Kau abadi!

Kematian: Menuju Sebuah Dunia Baru2

“Lihatlah mereka yang telah mendahului kita,” demikian Nachiketa – sang anak bangsawan berusia enam belas tahun yang bertanya dalam Katha Upanishad. “Jutaan orang laki-laki, perempuan, dan anak-anak. Kemana mereka pergi?” Persis seperti T.S Elliot ketika ia mengamati orang berjalan melintasi Jembatan London, tanpa muka dan tanpa nama dalam kabut pagi, dan tiba-tiba (baca: di dunia ini tidak ada yang ‘tiba-tiba’ – ed.) melihat jalan dari dunia ini menuju dunia selanjutnya. London lenyap. Dia, Dante, berdiri di tepi sungai Styx dalam perjalanannya ke tanah orang mati. “Begitu banyak! Tidak pernah terpikir sebelumnya bahwa kematian telah merenggut begitu banyak orang.” Lantas, kemana? Untuk tujuan apa?

Suatu kali Nasruddin Hoja ditanya temannya, “Kapan kiamat terjadi?” “Kiamat apa yang kau maksud?”, Nasruddin balik bertanya. “Apakah kiamat itu lebih dari satu?”, temannya bertanya. “Ya,” jawab Nasruddin, “Ada kiamat besar dan kiamat kecil. Kiamat kecil adalah ketika isteriku mati. Dan kiamat besar adalah ketika aku yang mati,” tambahnya.

Tentu saja Hoja saat itu bercanda. Tapi ia benar ketika dia mengaitkan kiamat dengan kematian. Hanya saja, kiamat kecil bagi seseorang adalah kematiannya, sebelum kelak ia dibangkitkan kembali ketika kiamat besar terjadi. Ibnul Qayyim al-Jawzi berkata: “Maut adalah kebangkitan dan tempat kembali (ma’ad) pertama. Allah menciptakan dua tempat kembali dan dua kebangkitan bagi anak cucu Adam. Dalam keduanya Allah membalas orang jahat dengan kejahatan yang setimpal dan membalas orang baik dengan kebaikan yang lebih besar.”

Tapi, apa makna kematian (maut) itu? Lisanul ‘Arab mengartikan kata ‘maut’ sebagai padam, diam, tenang, tak bergerak. Sebagaimana kehidupan bermula, ketika ruh ditiupkan ke jasadm maka kematian terjadi ketika ruh terpisah dari badan. Maut juga berarti bergantinya keberadaan, dan berpindahnya (sesuatu) dari tempat satu ke tempat yang lain. Maka, jelaslah sabda Muhammad Rasulullah SAW, “Kalian diciptakan untuk keabadian, bukan untuk mengalami kemusnahan. Kematian sesuangguhnya adalah perpindahan dari satu rumah ke rumah yang lain.” Yakni, dari rumah dunia ke rumah akhirat.

Kematian adalah ketika ruh meninggalkan badan, sebagaimana pelaut meninggalkan kapalnya yang karam, begitulah ucap Syeikh Abbas al-Qummi. Atau bagaikan secercah cahaya yang meninggalkan suatu tempat, dan membiarkannya menjadi padam dan gelap kembali, persis seperti saat ia belum masuk ke dalamnya.

Selain ‘maut’, Al Qur’an juga menggunakan istilah ‘wafat’ untuk menunjuk makna mati. Murtadha Muthahari membuat sebuah analisis yang menarik tenang kata ‘tawaffa’ (mati) yang berakar pada kata yang sama dalam bahasa Persia yang memiliki bunyi hampir sama, yakni ‘faut’. Menurut Murthada Muthahhari, sebagian orang Persia mengira kedua istilah ini bersala dari kata yang sama. Mereka mengira bahwa ‘wafat kard’ – ‘faut kard’. ‘Faut’ berarti hilang, atau lepas dari pegangan. Jika istilah ‘wafat’ bermakna sama dengan ‘faut’, maka kematian akan memiliki konotasi hilang atau musnah. Kenyataannya, makna istilah ‘faut’ malah berkebalikan dengan makna istilah ‘wafat’ yang dipergunakan oleh Al Qur’an untuk menyatakan ‘kematian’. Sebaliknya, dari ‘lepas dari pegangan’, istilah ‘tawaffa’ berarti mengambil sesuatu dan menerimanya secaranya secara sempurna. Contohnya, jika Anda mendapatkan kembali seluruh piutang Anda, dan bukan hanya sebagian, maka itu disebut sebagai ‘tawaffa’ atau ‘istifa’. Al Qur’an senantiasa mengaitkan kematian dengan ‘menerima secara sempurna.’

Allah menerima (dengan sepenuhnya) jiwa-jiwa pada saat kematiannya.”

Di dalam surat al-Sajjad disebutkan: “Dan mereka berkata: ‘Apakah ketika kami telah lenyap (musnah) di dalam tanah, ami akan benar-benar menjadi ciptaan yang baru?’ Katakanlah: Malaikat ditugasi untuk menerimamu dan kpada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.”

Muthahhari menyimpulkan bahwa mati berarti dipindahkannya, atau diserahkannya (ruh) si mati dari satu alam ke alam yang lain. Malaikat-malaikat pesuruh Allah datang untuk menerimanya dan membawanya. Pada saat itu, ruh manusia diterima dalam keadaan utuh dan sempurnah. Tak ada yang musnah atau berkurang. Kemusnahan hanya bisa dilekatkan kepada wadah belaka.

Berhubungan dengan istilah ‘wafat’ ini, dikenal juga istilah ‘kematian kecil.’ Ynag ditunjuk oleh istilah ini adalah tidur. Benarkah? Allah SWT berfirman:

Dan dialah yang mewafatkan kalian pada malam hari …?”

Allah menggenggam jiwa manusia ketika matinya dan menggenggam jiwa (manusia) yang belum mati di waktu tidurnya? Maka dia tahanlah jiwa orang yang telah ditetapkan kematiannya, dan dia lepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya dalam hal itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir.”

Memang, “Sesungguhnya,” kata Rasulullah SAW, “hidup manusia di dunia ini bagaikan mimpi.” Ia terjaga ketika mati.” “Dan pada hari itu,” ungkap Allah SWT, “Penglihatan akan menjadi terang-benderang.”

Makna perenungan Shakespeare berada di arah yang benar ketika ia bergumam, “Kita bagaikan obyek mimpi. Tumbuh besar, pergi ke sekolah, menikah, punya anak, cari uang, membelanjakan uang, dan menjadi tua. Dan hidup kita yang singkai ini digenapi dengan sebuah tidur.” Hanya kali ini kita mungkin bisa melanjutkan jawabannya yang tidak selesai itu. Kematian adalah transisi dari satu kehidupan ke kehidupan yang lain. Bahkan dari sebuah mimpi – dari realitas virtual – ke realitas yang sejati. Dan kepada T.S Elliot, kita dapat dengan yakin mengatakan bahwa di ujung Jembatan London itu terhampar dunia baru di mana cahayanya bersinar terang-benderang dan tak pernah padam.

Di ujung Jembatan London

Mulla Shadra mengatakan bahwa manusia di alam ini statusnya sebagai sesuatu yang dapat dilihat, di mana jiwa dan ruh tersembunyi dalam eksistensi Jasad. Ketika Tuhan berkehendak untuk mengirim jiwa tersebut dari alam ini ke alam perantara (barzakh), Dia membuat tubuh itu mati melalui tugas Malaikat Maut.

Tidak sepantasnya seorang anak manusia untuk takut dan sedih terhadap kematian. Dan ini bukan berarti ia harus mengharap kematian atau bunuh diri. Namun, hanya Dia-lah yang berhak menyambung dan memutuskan hubungan antara ruh dengan badan. Ibaratnya, kita menyewa tubuh ini untuk dijaga, diayomi, mengurus baik kelengkapan, kebersihan dan kesehatannya. Jika sewaktu-waktu Yang Punya meminta untuk kembali, kita akan mengembalikannya setidaknya dalam keadaan utuh, layaknya peminjam yang bertanggung jawab. Jika tanpa seizin-Nya kita mengembalikan, maka itu telah menyalahi ‘perjanjian’. Dan kita harus selalu ingat bahwa di ujung jalan Jembatan London itu terhampar Dunia Baru yang bahkan Sadeq Hedayat sendiripun mengatakan bahwa itu Abadi.

Setiap yang mati akan dibangkitkan dan dihidupkan kembali untuk menerima balasan atas apa yang diyakini dan perbuatannya. Hal ini terjadi berurutan mulai dari kematian, alam kubur, alam barzakh, kemudian kiamat besar dan surga-neraka. Intinya, Kematian tidak hanya saja indah dan kita harus menjemput keindahan itu sesuka hati kita. Kematian adalah jalan untuk Perjumpaan dengan Sang Kekasih. Sehingga tidak mungkin dengan tangan kosong kita menghampiriNya. Ketika umur panjang diraih, itu pun juga merupakan kebahagiaan tersendiri di mana ia memiliki banyak lagi kesempatan untuk menyiapkan perbekalan bagi perjalanan panjang nanti. []

1 Tulisan ini berjudul asli “Marg” yang artinya “Kematian” dan ditulis oleh sastrawan besar dari Iran bernama Sadeq Hedayat (1903 – 1941), yang menulis novel magnum opus-nya berjudul ‘The Blind Owl’. Sumber: “Don Juan of Karaj” (Dastan Books).

2 Artikel ini ditulis oleh Haidar Bagir dalam Jurnal Al-Huda. Haidar Bagir adalah Pemimpin Umum Penerbit Mizan (sejak 1982).

Eja Tuhan

Sunday, August 13th, 2006

HOW DO YOU SPELL GOD?

What is God? Is He the Supreme Spirit Who alone exists of Himself and is infinite in al perspections? Since Allan Watts said, in the West, Ultimate Reality is based in the ‘word of God’ as it has been handed down to mankind as part of mythology. In which humans are the creations of a mighty Father image, symbolic of the power of heaven. Perhaps that is why Karen Armstrong felt like James Joyce in searching for the meaning of belief and faith in God, that someone ever suggested to Joyce that is God-term should be a pier, rather than a bridge of pilgrimages, for a pier is a bridge that goes nowhere. All religions would agree that it is impossible to describe the transcendent meaning of God. Karen said that God has no objection meaning. Especially history has told as that each generation has to create the image of God that works for it, and the same is time with atheism. The statement, ‘I do not believe in God’ has meant something different at each period of history. Therefore, what is a God while His words have shaped the history of human culture? It still remains a mystery. But a mystery is not a deadlock.

Karen Armstrong gave a very interesting final statement by saying, ‘We have to decide whether the word “God” has any meaning for us today.’ This statement reminds me of Marilyn Manson who had a tour and asked the audience to spelled the word ‘GOD.’ He said, ‘How do you spell ‘GOD’?” and together with his audience, he spelled, “D…R…U…G. Drugs!!!” So, now we know that Manson spelled ‘GOD’ as ‘DRUG.’ Well, I have no right to say that Manson was wrong, but it shows us that even the word ‘God’ can be spelled different from the visual reality. Since His Words have changed and shaped our culture, custom, and attitude, perhaps the word ‘God’ still has its meaning. Otherwise, people won’t say, “Oh God!” or “So help me God!”, etc. Though our mind will always go back and forth asking, ‘Which GOD of the many offered do we subscribe to?’ []

for ‘The Dreadlock Deadlock’

Tuesday, August 8th, 2006

I was reading ‘The Dreadlock Deadlock" in Newsweek’s article around 2001, about Christopher Polk, a Rastafarian whom being fired from his job because he reject to hide his dreadlock. And then my Lectrurer asked me about what will I do if there is someone told me not to use or show symbol of faith.

Well, Symbol can be a manifest of something and it always contain of meaning. I definetely will say NO if my professir or anyone else asked me to put off my symbol of faith. No one! Why? Well, just like Kennel Jackson said on that article, "There’s a divinity to these locks." Yes! Indeed. There is divinity to evert symbol of faith. And since I’m a writer, I will write my sweet & polite arguments with not so juvenil writings, so he/she can read it slowly and perhaps rethinking about his/hers decision for not allowing me or others to use our symbol of faith.

Hmm … that’s all for today. So sorry for not much writing. I’m very busy with my soul right. She needs me. Very much.

Valhalland, 9/8/2006