Tali Sepatu dan Ular
TRIBUTE to PUTHUT (1)
- Tali sepatu dan Ular -
Kemarin, aku bertemu Puthut EA. For the first time. Aku ambil gambar dia dengan berbagai gaya – tanpa dia sadari, tentu saja. Dia terus saja pasang senyuman dan memukau peserta workshop – tentu saja aku juga. Inikah si-EA itu? Seperti tidak menyangka. Ya, itu Puthut EA. Kusampaikan ke Bessy, dan Bessy membalas agar Puthut kembali ke dunia politik yang sedang dalam state emergency.
Banyak hal yang disampaikan oleh Puthut, dan ketika mau ditambah SATU JAM LAGI oleh Panitia Workshop Kepenulisan Novel, yaitu mas Yudhi dari SketsaKata, banyak pula yang menolak dan merasa cukup. Tapi kutidak, dan nrimo aja. Toh, tandatangannya sudah kudapat.
Ia menceritakan bahwa:
“Saya teringat sewaktu saya duduk di bangku SMP. Saat itu. Guru seni rupa saya menguraikan tentang bentuk tulisan ‘realis’ dan ‘abstrak’. Lalu ada teman saya yang bertanya, bukankah menulis abstrak itu lebih gampang? Asal gores dan asal lukis, pokoknya orang tidak paham, dan jadilah lukisan abstrak. Jawaban guru seni rupa saya itu masih teringat hingga sekarang. Beliau berkata, “Begini, memang sepertinya melukis abstrak itu mudah, asal gores, dan membuat orang mengernyit, maka itulah lukisan abstrak. Tapi sebelum seseorang melukis abstrak, alangkah lebih baik jika ia sudah bisa melukis dengan baik tali sepatu dan ular.”
Puthut juga mengatakan bahwa, alangkah baiknya jika ingin melakukan hal yang aneh-aneh, kita terlebih dahulu menguasai hal-hal yang dasar. Melukis tali sepatu dan ular dengan baik, adalah hal yang paling dasar. Puthut menekankan, “Jangan-jangan lukisan tulisan tali sepatu itu mirip ular, dan sebaliknya. Atau malah sama sekali lukisan itu tidak berbentuk seperti keduanya.”
Hmmm …
Menurutku, sama saja antara melukis, menari, menulis, berkreasi, cipta-rasa-karsa, sama saja, sehingga …
Begini, bagaimana jika orang itu bermaksud melukis ULAR, tapi orang lain melihatnya seperti TALI SEPATU. Kurasa ini sama seperti kisah hidup Antoine de Saint-Exupéry yang melukis Gajah dalam perut Ular, tapi orang melihatnya seperti Topi, dan hanyalah anak-anak (baca: orang polos, mungkin) yang bisa melihat lukisan itu sebagai Ular yang menelan Gajah.
Begitu juga dalam membaca dan menulis, sebelum kita melihat hal itu sebagai hal yang aneh-aneh, mungkin kita harus poloskan pikiran, sehingga ketika dalam ruangan yang gelap, kita tidak berpikiran yang aneh-aneh, apakah ada Hantu bernama RUMIT atau KOMPLEK.
Well?
Valhalland, 26 Juni 2006

July 1st, 2006 at 3:39 am
Well.
Jika si pelukis (penulis) bermaksud mencipta karya abstrak (fiksi), dan karyanya itu ditangkap lain oleh para penikmat menurut sudut pandang masing2, maka it’s okay.
Namun, jika karyanya itu dimaksudkan realis (faktual), dan karyanya itu ditangkap lain oleh para penikmat menurut sudut pandang masing2, maka kita patut mempertanyakannya, ‘kan?
July 16th, 2006 at 2:29 am
Tapi ketika tulisan lahir, sepertinya pengarang sudah mati deh …
tinggal pembaca yang masih hidup dan harus bantingtulang mencerna makanan. Pengarang lah yang mereka cerna. Khan mati dimakan pembacanya.
August 18th, 2007 at 3:00 am
Anu, ak g terlalu mudheng dng kt2 si jenius puthut ea ttg lukisan abstrak/realis, tp ak ngerti, knp ular dan tali sepatu bsa d anggap sma hehe… Ohya ad yg tau web or fsnya puthut g? Klu ad, tlg mailing k chora_potter@yahoo.com … Plese…