Put Spell on You, Klepu!
PUT SPELL ON YOU, KLEPU!
Konon, KLEPU adalah desa kecil indah yang berpenghuni dengan sedikit manusia. Bukit hijaunya, hutan jati, dan sungai mata air mengalir deras mencipta kesejukan. Beberapa petualang sering singgah, bahkan menetap beberapa lama untuk menikmati keindahan Klepu. Tapi tak satupun petualang yang tinggal menetap dan beranak-pinak di desa itu. Ini sebuah perjanjian, petualang harus bertualang.
Mereka mempunyai tempat favorit untuk bercengkerama dengan alam, di tepi sungai, di dalam hutan menyendiri dengan api unggun dan minuman hangat, lalu menulis. Seperti kebanyakan petualang, jurnal-jurnal akan selalu penuh cerita jika mereka tiba di Klepu. Mereka menyimpan jurnal-jurnal itu dengan penuh hati-hati. Pengalaman membuktikan bahwa kera-kera doyan dengan cerita-cerita para petualang itu. Mereka kadang menghancurkannya, tapi ada juga yang menyimpannya. Tulisan-tulisan yang hancur itu dicabik hingga menjadi serpihan lembut kertas-kertas.
Para petualang yang keluar dari Klepu selalu membawa berita yang luar biasa tentang desa itu. Ada yang mnegatakan bahwa Klepu memiliki tanah ajaib yang dapat menumbuhkan benih apapun yang dilempar ke atasnya, tanpa disiram dan dipupuk. Ada juga yang mengatakan bahwa di Klepu terdapat kera berbulu emas yang sakti. Kesaktiannya belum ada yang melihat sehingga tak terkatakan. Beberapa juga mengatakan kalau tanah di Klepu kaya akan emas.
Cerita ini tersebar ke seluruh pelosok hingga seorang petualang akhir-akhir ini menceritakan bahwa Klepu penuh sesak dengan penduduk pendatang yang sibuk mencari kera berbulu emas, batu-batuan berharga, menanam kurma di tanah Klepu dan menjaring emas di sungai-sungai. Segera, orang melupakan tentang indahnya Klepu. Mereka tidak lagi mencari kabut dingin di bukit-bukit Klepu, hingga Klepu pun lupa untuk berkabut. Seolah-olah tubuh Klepu dipersiapkan untuk digali, ditanami tanpa peduli, digunduli, dieksploitasi oleh para penduduk barunya. Tapi tak seorang pun mendapati kebenaran berita bahwa di Klepu terdapat kera berbulu emas.
Klepu lelah, dan seorang petualang melihat hal ini dan mencatatnya. Sewaktu sang petualang tidur, seekor kera berbulu emas (ternyata di Klepu ada kera berbulu emas, dan tak seorang pun mendapatkannya) mengambil jurnal harian sang petualang. Kera itu membawa catatan sang petualang ke atas pohon Jati yang paling tinggi. Pohon itu sangat tinggi hingga menembus kabut dan awan – dan terlihat pucuk daunnya yang seakan menembus langit. Kera berbulu emas itu naik terus ke atas dan kemudian menjunjung Jurnal sang Petualang. Seakan-akan tahu apa yang ditulis oleh sang petualang, kera berbulu emas itu memekik dengan garang, “Kraaaaaaaaaaaaaaaaakkkk kaaaaaaaaaaaaakkkk!!” Jurnal sang Petualang berteriak dengan kata-kata, “Selamatkan KLEPU!!!”
Dan sekejap, Klepu berguncang. Seluruh bumi Klepu rata dengan tanah. Seakan berganti kulit, selimut kusam yang menyelimuti Klepu, luruh melepuh. Sang petualang kaget dengan guncangan, dan sambil menyelamatkan diri, ia mencari jurnal hariannya yang telah hilang. Sementara di pucuk pohon Jati, Kera berbulu emas bertanya-tanya dalam hati, “Apa yang terjadi?” Air muka binatang sakti itu menunjukkan keheranan – menolah ke kanan dan kiri, melongok ke bawah dan menengadah ke atas, dan dalam bahasa hewan, ia seolah berbicara, (mungkin) “Apakah aku salah mantra?”
Sang petualang melihat dengan mata kepala sendiri, Klepu yang hancur. Ia tak lagi peduli dengan jurnalnya yang hilang, karena ia bisa menuliskannya lagi. Bahkan ia bersemangat untuk menulis tentang kelumpuhan Klepu. Ia mencatat segala hal yang ia rasakan saat itu. Ketakutannya, ketakjuban, kesedihan, keheranan, banyak hal, “Teman-teman, Klepu kita yang indah telah hancur untuk kesekian kalinya. Sembilan puluh persen rumah-rumah penduduk hancur. Sekolah-sekolah rubuh. Pasar yang ramai kini punah. Aku tidak melihat banyak penduduk. Beberapa dari mereka melakukan eksodus tiba-tiba dan beberapa masih meratap di depan puing-puing rumahnya. Kini Klepu sunyi senyap, persis seperti sedia kala – awal dimana aku melakukan perjalanan pertama kali ke Klepu. Selamatkan Klepu!” Begitu tulis sang petualang dalam jurnal barunya.
Kera berbulu emas kembali mengincar jurnal sang petualang. Mereka mencurinya dan bersemangat membawanya ke pucuk pohon Jati. Tapi sebelum itu, ia memastikan dulu apa yang akan ia teriakkan pada sang Hyang Widhi. Ia membaca jurnal sang Petualang dengan seksama. Kera berbulu emas menganggap bahwa jurnal sang petualang adalah kitab suci yang mengandung mantra. Bisa mantra yang baik, bisa mantra yang buruk. Terkadang kera-kera itu membacanya terlebih dahulu, tapi kadang ia langsung memekikkannya begitu saja, hanya karena merasa kenal dengan sang petualang. Ketika sampai pada baris, “…Kini Klepu sunyi senyap, persis seperti sedia kala – awal dimana aku melakukan perjalanan pertama kali ke Klepu. Selamatkan Klepu!”, kera itu berhenti sejenak. Hiruk pikuk pekik kera-kera emas itu pun berhenti. Salah satu Kera berbulu emas yang membawa jurnal sang petualang, merobek seluruh catatan harian itu. Ia memekik, diikuti oleh kera-kera yang lain, dan menjadikan kertas-kertas itu menjadi butiran-butiran halus. Sang Hyang Widhi tersenyum. Kera-kera berbulu emas tahu bahwa, “Klepu telah Selamat!”
Valhalland, 25 Juni 2006
