Archive for June, 2006

Tali Sepatu dan Ular

Friday, June 30th, 2006

TRIBUTE to PUTHUT (1)

- Tali sepatu dan Ular -

Puthut_dr_belakang_1 

Kemarin, aku bertemu Puthut EA. For the first time. Aku ambil gambar dia dengan berbagai gaya – tanpa dia sadari, tentu saja. Dia terus saja pasang senyuman dan memukau peserta workshop – tentu saja aku juga. Inikah si-EA itu? Seperti tidak menyangka. Ya, itu Puthut EA. Kusampaikan ke Bessy, dan Bessy membalas agar Puthut kembali ke dunia politik yang sedang dalam state emergency.

Banyak hal yang disampaikan oleh Puthut, dan ketika mau ditambah SATU JAM LAGI oleh Panitia Workshop Kepenulisan Novel, yaitu mas Yudhi dari SketsaKata, banyak pula yang menolak dan merasa cukup. Tapi kutidak, dan nrimo aja. Toh, tandatangannya sudah kudapat.

Ia menceritakan bahwa:

“Saya teringat sewaktu saya duduk di bangku SMP. Saat itu. Guru seni rupa saya menguraikan tentang bentuk tulisan ‘realis’ dan ‘abstrak’. Lalu ada teman saya yang bertanya, bukankah menulis abstrak itu lebih gampang? Asal gores dan asal lukis, pokoknya orang tidak paham, dan jadilah lukisan abstrak. Jawaban guru seni rupa saya itu masih teringat hingga sekarang. Beliau berkata, “Begini, memang sepertinya melukis abstrak itu mudah, asal gores, dan membuat orang mengernyit, maka itulah lukisan abstrak. Tapi sebelum seseorang melukis abstrak, alangkah lebih baik jika ia sudah bisa melukis dengan baik tali sepatu dan ular.”

Puthut juga mengatakan bahwa, alangkah baiknya jika ingin melakukan hal yang aneh-aneh, kita terlebih dahulu menguasai hal-hal yang dasar. Melukis tali sepatu dan ular dengan baik, adalah hal yang paling dasar. Puthut menekankan, “Jangan-jangan lukisan tulisan tali sepatu itu mirip ular, dan sebaliknya. Atau malah sama sekali lukisan itu tidak berbentuk seperti keduanya.”

Hmmm …

Menurutku, sama saja antara melukis, menari, menulis, berkreasi, cipta-rasa-karsa, sama saja, sehingga …

Begini, bagaimana jika orang itu bermaksud melukis ULAR, tapi orang lain melihatnya seperti TALI SEPATU. Kurasa ini sama seperti kisah hidup Antoine de Saint-Exupéry yang melukis Gajah dalam perut Ular, tapi orang melihatnya seperti Topi, dan hanyalah anak-anak (baca: orang polos, mungkin) yang bisa melihat lukisan itu sebagai Ular yang menelan Gajah.

Begitu juga dalam membaca dan menulis, sebelum kita melihat hal itu sebagai hal yang aneh-aneh, mungkin kita harus poloskan pikiran, sehingga ketika dalam ruangan yang gelap, kita tidak berpikiran yang aneh-aneh, apakah ada Hantu bernama RUMIT atau KOMPLEK.

Well?

Valhalland, 26 Juni 2006

Put Spell on You, Klepu!

Friday, June 30th, 2006

PUT SPELL ON YOU, KLEPU!

04_1

Konon, KLEPU adalah desa kecil indah yang berpenghuni dengan sedikit manusia. Bukit hijaunya, hutan jati, dan sungai mata air mengalir deras mencipta kesejukan. Beberapa petualang sering singgah, bahkan menetap beberapa lama untuk menikmati keindahan Klepu. Tapi tak satupun petualang yang tinggal menetap dan beranak-pinak di desa itu. Ini sebuah perjanjian, petualang harus bertualang.

Mereka mempunyai tempat favorit untuk bercengkerama dengan alam, di tepi sungai, di dalam hutan menyendiri dengan api unggun dan minuman hangat, lalu menulis. Seperti kebanyakan petualang, jurnal-jurnal akan selalu penuh cerita jika mereka tiba di Klepu. Mereka menyimpan jurnal-jurnal itu dengan penuh hati-hati. Pengalaman membuktikan bahwa kera-kera doyan dengan cerita-cerita para petualang itu. Mereka kadang menghancurkannya, tapi ada juga yang menyimpannya. Tulisan-tulisan yang hancur itu dicabik hingga menjadi serpihan lembut kertas-kertas.

Para petualang yang keluar dari Klepu selalu membawa berita yang luar biasa tentang desa itu. Ada yang mnegatakan bahwa Klepu memiliki tanah ajaib yang dapat menumbuhkan benih apapun yang dilempar ke atasnya, tanpa disiram dan dipupuk. Ada juga yang mengatakan bahwa di Klepu terdapat kera berbulu emas yang sakti. Kesaktiannya belum ada yang melihat sehingga tak terkatakan. Beberapa juga mengatakan kalau tanah di Klepu kaya akan emas.

Cerita ini tersebar ke seluruh pelosok hingga seorang petualang akhir-akhir ini menceritakan bahwa Klepu penuh sesak dengan penduduk pendatang yang sibuk mencari kera berbulu emas, batu-batuan berharga, menanam kurma di tanah Klepu dan menjaring emas di sungai-sungai. Segera, orang melupakan tentang indahnya Klepu. Mereka tidak lagi mencari kabut dingin di bukit-bukit Klepu, hingga Klepu pun lupa untuk berkabut. Seolah-olah tubuh Klepu dipersiapkan untuk digali, ditanami tanpa peduli, digunduli, dieksploitasi oleh para penduduk barunya. Tapi tak seorang pun mendapati kebenaran berita bahwa di Klepu terdapat kera berbulu emas.

Klepu lelah, dan seorang petualang melihat hal ini dan mencatatnya. Sewaktu sang petualang tidur, seekor kera berbulu emas (ternyata di Klepu ada kera berbulu emas, dan tak seorang pun mendapatkannya) mengambil jurnal harian sang petualang. Kera itu membawa catatan sang petualang ke atas pohon Jati yang paling tinggi. Pohon itu sangat tinggi hingga menembus kabut dan awan – dan terlihat pucuk daunnya yang seakan menembus langit. Kera berbulu emas itu naik terus ke atas dan kemudian menjunjung Jurnal sang Petualang. Seakan-akan tahu apa yang ditulis oleh sang petualang, kera berbulu emas itu memekik dengan garang, “Kraaaaaaaaaaaaaaaaakkkk kaaaaaaaaaaaaakkkk!!” Jurnal sang Petualang berteriak dengan kata-kata, “Selamatkan KLEPU!!!”

Dan sekejap, Klepu berguncang. Seluruh bumi Klepu rata dengan tanah. Seakan berganti kulit, selimut kusam yang menyelimuti Klepu, luruh melepuh. Sang petualang kaget dengan guncangan, dan sambil menyelamatkan diri, ia mencari jurnal hariannya yang telah hilang. Sementara di pucuk pohon Jati, Kera berbulu emas bertanya-tanya dalam hati, “Apa yang terjadi?” Air muka binatang sakti itu menunjukkan keheranan – menolah ke kanan dan kiri, melongok ke bawah dan menengadah ke atas, dan dalam bahasa hewan, ia seolah berbicara, (mungkin) “Apakah aku salah mantra?”

Sang petualang melihat dengan mata kepala sendiri, Klepu yang hancur. Ia tak lagi peduli dengan jurnalnya yang hilang, karena ia bisa menuliskannya lagi. Bahkan ia bersemangat untuk menulis tentang kelumpuhan Klepu. Ia mencatat segala hal yang ia rasakan saat itu. Ketakutannya, ketakjuban, kesedihan, keheranan, banyak hal, “Teman-teman, Klepu kita yang indah telah hancur untuk kesekian kalinya. Sembilan puluh persen rumah-rumah penduduk hancur. Sekolah-sekolah rubuh. Pasar yang ramai kini punah. Aku tidak melihat banyak penduduk. Beberapa dari mereka melakukan eksodus tiba-tiba dan beberapa masih meratap di depan puing-puing rumahnya. Kini Klepu sunyi senyap, persis seperti sedia kala – awal dimana aku melakukan perjalanan pertama kali ke Klepu. Selamatkan Klepu!” Begitu tulis sang petualang dalam jurnal barunya.

Kera berbulu emas kembali mengincar jurnal sang petualang. Mereka mencurinya dan bersemangat membawanya ke pucuk pohon Jati. Tapi sebelum itu, ia memastikan dulu apa yang akan ia teriakkan pada sang Hyang Widhi. Ia membaca jurnal sang Petualang dengan seksama. Kera berbulu emas menganggap bahwa jurnal sang petualang adalah kitab suci yang mengandung mantra. Bisa mantra yang baik, bisa mantra yang buruk. Terkadang kera-kera itu membacanya terlebih dahulu, tapi kadang ia langsung memekikkannya begitu saja, hanya karena merasa kenal dengan sang petualang. Ketika sampai pada baris, “…Kini Klepu sunyi senyap, persis seperti sedia kala – awal dimana aku melakukan perjalanan pertama kali ke Klepu. Selamatkan Klepu!”, kera itu berhenti sejenak. Hiruk pikuk pekik kera-kera emas itu pun berhenti. Salah satu Kera berbulu emas yang membawa jurnal sang petualang, merobek seluruh catatan harian itu. Ia memekik, diikuti oleh kera-kera yang lain, dan menjadikan kertas-kertas itu menjadi butiran-butiran halus. Sang Hyang Widhi tersenyum. Kera-kera berbulu emas tahu bahwa, “Klepu telah Selamat!”

Valhalland, 25 Juni 2006

Naya Karenina, Al-Ghazali, & Amore

Thursday, June 15th, 2006

:: Antara Naya Karenina dan Al-Ghazali ::

Awalnya, aku akan ceritakan betapa buruknya sikapku pada seorang Imam besar Al-Ghazali. Bersama teman-teman yang pemahaman filsaf bukan main dahsyatnya, sering kita katakan bahwa Al-Ghazali adalah orang yang sedikit egois karena membolehkan dirinya untuk mencicipi greget filsafat, tapi melarang kita untuk menelisik falsafah. Tapi jika kupakai kacamata Al-Ghazali, maka kuhanya akan melihat LOVE CINTA AMORE yang besar. Terlepas dari kata-katanya yang mendoktrin, he just don’t want us to be hurt and lost. My Dearest KareninaNaya, just like he did, I do put my ego on you. Gomen …. the life is yours to take every tasks and risks. I trust, that you do know the meaning of LOVE.

- deket rumah, 15 Juni 2006 -

Juna in June (Journey to the Past … then I die)

Wednesday, June 14th, 2006

:: JUNA in JUNE ::

Type: realshortstoryandnotfantasy

:: Journey to the Past ::

(I die then) … ()()() ….

That midday, surrounding by white cloud, my higher self and I, being alone again. I opened window and stared at the green weed. The air wandering so soft, touching my cheeks. The smells of the wind putting me back in my 1960’s life, where I rode my yellow bicycle and wave my hand to my father. His smile, at that time, just like an orange juice – cherish my days. I thought that the day would never turn into night, where the sun of life would never hide. Trees were more green than the green itself. Skies were blue and white. A perfect day to spread my minty smiles.

      But today, I felt that I am not alive. I breathe and I am fully functional, somehow. But I am not alive, definitely. I saw my father today – the day where he should be attended his trial where my mom asking him to divorcing her. For sure my heartbeats, I cried. I was driving my car when I saw my father walked on foot, alone – with his favorite blue jeans and brown shirt – covered his body. That time, I couldn’t stand look at his face. In all aspects of my emotional being I am dead. I watched so hopelessly as the green light asking me to move forward the car. For I’ve been more than two years never seen him, yes, I miss him. A lot.

I was left stranded all alone in the darkness of my own mind with no one to battle but myself – should I meet him or not. I long for the long chat when he brought me in the riverbank of Bengawan Solo. With love he has at the moment, a spoonful of Nasi Liwet he gave me – oh again, I really miss my father. He told me many stories, from Bawang Merah – Bawang Putih until Si Kancil, etc. I really … really missed those days we had.

      Right now, while I drove my car, he was walking alone – with no aim for life. His fought with my mother makes me feel that he is no longer my father. Why this happen? As I fell into the downward spiral of depression that now consumes me, my glasses were blurred and battered until any sense of color had been drained. All that was left was the raw brutal reflection of myself left in shades of dark gray. Through the daily struggle I call life there is but one thing I pride myself in, my ability to disappeared my self into my secret garden. When I am in it, I won’t remember anymore, whether my parents divorced or not, yet.

      Your mom hate me so bad”, he said once in a phone call.

      “No, father. She did not. She cared so much about you. That’s why she asking you to married again”, I said – in a though mode, even though my heart cried.

      “And you hate me also, right. You never call me, never want to see me. I am your father, Juna”, he said again – sadly.

      No, father. Life is so hard here, whether we have a lot of money and nice place to living. I never felt such happiness like once I ever had. I can feel the hatred that mom and you had. You two always shouted one each other. I thought it is better for you to separate for a while, or maybe for good”, I replied – and hated my self for that.

      “I don’t have a job here, Juna. I don’t have money to fulfill my need for daily life. Don’t you care? I am your father, Juna. The one who always brought you for a happy trip in the morning? Don’t you remember that, Juna?”  he said – so dreadfully sad.

      “I remember those lovely days, father. I remember it well. That’s why mom hated me for giving you my monthly wages. And that’s why mom asking you to married again, to seek another happiness that she can’t give you. Do you know, that you have betrayed us, but still I love you, Father. You betrayed us, but still I kept remembering good days we ever had. I always remember your advices when I want to do bad things. Why can’t you do the same things when you want to betray us that day? Why can’t you remember mom, and me when you bring that bitch in your arms? Why can’t you remember mom and else before everything was too late? Why?” I replied my father’s sadness with another harsh words.

      I guess it’s already to late, huh?”, he asked.

      “Maybe, father. But life is not ended here. We must not carry on with the mistakes we ever did in the past. We still have future – far … far away road toward a better day. I want you not just giving up with faith that you made. I want you to wake up and face the reality that you no longer live in the same house with us. But you do still have a home in my heart, for you are my father. Please do seek another job beside the old time job that you were working on with mom. I want mom knows that without her, you’re able to stand beautifully against the tough &– cruel world”, I replied my father’s desperately answer with though words. And he answered it with goodbye and take care stuff.

      Great! My mom hates me for pitying my father; and now, father hates me for defending mom and blaming him for what he has done. I am all alone. This night, I don’t know whether tomorrow is a good day or not. I shall wait. 

Like all broken-home family, when it broke down, then it will be. January 2004, my family, broke down. Dad living alone and I stay with Mom. What can I say about that?

“Take it easy, Juna, life’s not just being together with family. Sometime war is needed instead of hugs”, he said, “what about if going out somewhere you can feel relax. Just you and me, Juna. Garut? Or maybe, somewhere like Merauke or Toba Lake?”, he said again – more of peculiar ideas.

“Yeah, right. And we’ll have one room for two, you sleep beneath me and the next thing is another disaster in my family. What an Idea!”, I replied a bit harshly. And then he laughed, emotionally. I can’t believe that my own boyfriend would only say such things to comfort me. Now I know why I feel so weird when he hugged me. Not the warm and fuzzy hugs he need, but the lustiest hugs are.

One day, he asked me why I’m being so quiet lately, “Are you okay?”

“No”, I said, “Life is too short to love. But why we hate each other?”, I added.

“I don’t hate you. I love you sooooooooooo much”, he said it excitingly.

“No”, I replied, “Someday, you will hate me for some reasons”, I said.

“Oh no! I guaranteed that it would not happen to us. Things that happened to your parents won’t happen to us”, he added it confidently.

      He’s right. Bad things that happened to my parents won’t happen to me, to us. Because, this morning, I awake a bit early than I used to do. And I must do something to avoid these unhappy things. Mom still in her bed and home still sweet as usual. I starred at my mother’s photographs. And then Henry, my beloved fiancé. I watch him closely. And closer … and closer … and then I kiss him, telepathically. I’m not saying goodbye, but the tears that running from my eyes telling me so. But I’m not saying goodbye. No, Mom!

      She’s still in her bed. Sleeping like a baby – makes me want to hug her. But I’m not saying goodbye. Even though, the hug that I want it to give her is more like a farewell hugs. But I’m not saying goodbye. Then, rapidly, I kissed her cheek and woke her up.

      “Are you going to college, honey?”, she asked.

      “Yes, Mom. I’m going out, not for long. I’ll be back. Just wait, ok?”, I replied.

      “Ok, I’ll wait. Because you’ve made your promise to go to store with me today. We’ll shop till we drop”, she said, hastily.

      Her beautiful smiles that morning – smiles that I cannot forget even though dead do us part.

      And Henry, ….

      I dreamt about him last night. He was calling out my name – out loud. Too loud and woke me up with it. This morning, I didn’t see him in our favorite place. A bus station. Somehow I felt that this morning is the last morning I will have with him. But then I cut the thought out of my mind.

      Now, there’s only me in the highest roof of my faculty. I kept waiting for Henry Boy to climb up here, stay with me awhile when I mourned for my broken family. I thought, the blue sky and a Henry would make me easier to share my emotions and perhaps a lil bit of tears would come down.

      I look at the sky, it was sharp blue and beautiful. The smell is like ocean breeze to me. And the wind …. It dances thru my hair. So soft and gentle and it makes me want to weep. I miss my mom. And deep down inside my heart, I asked whether my dad miss me too. And what about Henry? Did he remember about his promises that he will pick me up in the bus station? That he will accompany me in the top of the faculty roof?

      And suddenly, the wind touch so sharp like knife in my face. I felt like I was an apple. Following down the law of gravity. I saw my mom – she’s in the kitchen. Cooking and listening to TV as usual. She’s humming like this, “Hmmm …my daughter will coming home soon. So I must get dressed now”.

      And Oh God! I saw Henry too. He run so quickly, as if he was chasing his life and trying to grasp it. He was screaming my name, No; he was calling out loud my favorite nickname that he gave me, “My Dark Rose!! Come baaaaccck!!”

      In that moment, I felt that life is soooo beautiful. My life is pretty amazing, filled with mom and Henry – those people whom I loved them very much. But it was already too late. Everything was so dark, like The Land of Mordo[1], where only a dark rose will bloom there. For I’m only a dark rose in tir na noir[2].

- deket rumah, 15 Juni 2006 -



[1] Mordo = kegelapan

[2] Land of darkness

Pahlevi dan Vyasa dalam ….

Tuesday, June 13th, 2006

HIDUP dan SEBATANG ROKOK

Bagiku, hidup itu bagaikan sebatang rokok. Setiap batang mempunyai alur serta masa tersendiri. Tak jauh berbeda, begitulah hidup. Setiap insan mempunyai alur yang harus dijalani meski dalam alur setiap orang berbeda-beda. Masa, hal itu yang akan kita sertakan dalam mengarungi alur hidup setiap insan. Masa, hal yang menentukan seberapa cepat atau bahkan lamanya kita menapaki hidup kita.

Ya. Kuingat saat itu, celana pendek dan kerlingan api rokok di sela jari-jarimu membuatku melihatmu sebagai pria dewasa yang siap menemani hidup sendu pilu seniman kèré ini. Tak sangka pula aku merindukan berjangkrik ria dalam tenda di pulau Malika. Dan jika seandainya waktu bisa dipercepat atau diperlambat, maka aku akan mencoba menyesuaikan perbedaan umur diantara kita. Tapi kuyakin kamulah yang akan melarangku untuk melakukannya. Alasanmu, ‘masa tak putus asa.’

Aku cukup bimbang dalam hal ini. Hidup, segalanya terkonsep, tersekenario. Katanya, Tuhan adalah sutradaranya sedangkan kita tak lebih dari sekedar lakonnya. Kita aktor-aktor yang menjalani setiap detail adegan. Menjalani satu demi satu episode kehidupan.

Dan dirimu adalah Renato, aku adalah Malena. Dan suami Malena adalah orang yang telah berhasil kau singkirkan. Dan naasnya Malena ini telah jatuh hati pada Renato. Dan Renato merasa bahwa ini semua salah besar. Bahwa seharusnya Malena tak semudah itu. Bahwa aku sudah mengotori figur Malena. Tapi apakah Tuhan juga membuat skenario perjalanan cinta seperti ini? Sungguh Maha Pujangga. Tapi perasaan ini seperti sudah lama sekali terjadi. Dan aku tak kuasa untuk mempertahankan apa yang seharusnya tidak terjadi.

Kebingunganku semakin menggerogotiku. Kalau hidup adalah sebuah drama yang harus kita lakoni dan apa yang akan terjadi di dalamnya telah diatur, untuk apa kita bekerja? Sekolah? Ataupun usaha? Semua sudah ada yang ngatur.

Apa semua ini memang sudah teratur? Apakah memang takdir kita sekolah, belajar, bekerja? Apa ini sebuah usaha perbaikan atau sebuah usaha pencegahan? Inilah yang aku bingungkan.

Namaku Naya Karenina. Sudah lama aku mencintaimu. Kupendam. Kuendapkan. Kupending. Kusembunyikan. Kudiamkan. Tapi akhirnya meluap pula perasaan ini dan kaupun mengetahuinya. Ini semua memang sudah diatur. Sekolah, belajar, bekerja, cinta, aku, kau, dan juga suamiku. Apakah jika aku mencintaimu, apakah ini merupakan perbaikan hidup ataukan pencegahan terhadap keburukan yang akan terjadi? Aku tak tahu. Tapi kumencintai seluruhmu. Dan mungkin ini adalah kutukan Anna Karenina melalui ibuiku hingga aku menerima hukuman sekali lagi – menikah dengan suami yang lebih tua ditengah kumendamba cinta sesungguhnya dan bukan sekedar pengorbanan. Apakah memang cinta selalu sebuah pengorbanan. Dan kapan hal ini akan usai. Apakah ini lingkaran setan dan lagi dan lagi.

Rokok juga mempunyai masa tertentu, tergantung sang penghisapnya. Semakin sering serta semakin dalam sang penghisap menghisapnya maka semakin cepat pula rokok itu akan menjadi sebuah puntung. Kehidupan tak jauh berbeda. Semakin kita tidak bergaya hidup sehat, semakin cepat pula kita menjadi mayat. Tapi tunggu dulu, ini hanyalah rumus kesehatannya. Kenyataannya mungkin selaras bahkan melenceng jauh, mungkin hal ini yang menegaskan otoritas Tuhan. Ya, lagi-lagi Tuhan yang menentukan. Apakah kita bukan seorang penentu kehidupan kita. Kenapa Tuhan tak membuat semuanya sesuai dengan apa yang Dia inginkan, kalau kita tak dapat mengatur apapun yang kita lakoni?

Aku puntung. Renato-ku bernama Ibrahimovic. Aku ingin menikahinya. Sederhana saja, ia ingin bersama denganku selamanya. Tapi mereka tidak akan merelakan. Masing-masing diri kita mengalami kegelisahan yang sama. Ia selalu mengatakan, ‘gelisah merupakan suatu kewajaran dalam sebuah relasi.’ Dibalik kacamatanya tersembunyi mata indah yang selalu ia umpat, ‘Sumpah jelek banget!’ Semuanya tidak benar. Tuhan selalu membuat semuanya persis sesuai dengan apa yang Dia inginkan. Kita mengatur seperti aturan-Nya hanya saja kita tidak sadar atau tidak mau sadar atau pura-pura tidak sadar, padahal saat itu kita tengah mencurangi fitrah kita sendiri dan aku merasa berdosa jika menafikan CINTA antara kita berdua.

Aku rasa hal ini yang dinginkanNya. Mengatur segalanya sesuai kehendakNya. Inilah kehendakNya. Kuhisap rokok yang menancap disela-sela jariku. Dalam … Semakin dalam. Tak lelah ku memacu tenaga, mengembungkan paru-paruku, mejejalinya dengan asap.

Itulah cinta. Berkorban demi kenikmatan sementara. Iya bukan? Kalau tidak, lantas mengapa aku berpisah dengan suamiku, dan memilih bersamamu yang 10 tahun lebih muda dariku. Mengapa dirimu tidak peduli dengan cerca orang menikahi janda sepertiku. Janda yang mencari kejandaannya demi hal-hal yang berlangsung sementara …

Kuhisap nafasmu dalam-dalam. Semakin dalam. Seperti coklat, kau memabukkan. Tak lelah ku pacu tenaga, menggembungkan nafsuku dan menjejalinya dengan cintamu. Semoga Tuhan Allah mengampuniku. Aku hanya tidak ingin menjadi manusia yang dikebiri kebebasan dan bersikap tidak jujur pada hati. Maafkan aku …

Valhalland, 12 Juni 2006

(Tanya jawab lintas ruang dan waktu antara Pahlevi dan Vyasa)

Diari 9 Juni 2006

Friday, June 9th, 2006

Imgp3400

Sebut saja jamur penulis ada dimana-mana, tapi kurangnya pembaca. Jamur pembuat novel lahir dimana saja, tapi kritik karya kurang. Aku tak menyebut Barthes sebagai penanda; dan tak menyuruh kalian untuk memekikkan kata-kata ‘mitos masa kini’ sebagai petanda(!). Kita tengah membicarakan makna akan sesuatu. Bahwa kita tidak bisa membuat daftar obat semudah dokter picisan meracik resep. Gula bisa menjadi obat pada orang hepatitis, tapi menjadi racun pada penderita diabetes. Silfia hari ini mengatakan bahwa lima belas tahun lagi aku krisis makna dan mati impian beserta mimpi-mimpiku. Tapi bukankah mimpi bisa jadi sebuah pengalaman yang berkembang?

Wanitaku …

Friday, June 9th, 2006

LELAKINYA WANITA

“Wanitaku, kamu orang cerdas. Aku selalu sayang dengan orang cerdas,” katanya. Masih seperti yang dulu, ia berpedoman bahwa mencintai adalah sebagian dari akal.

“Hmm … benarkah? Kalau begitu kenapa tidak nikahi saja cerdasku?” jawabku. Aku sudah mulai kesal jika ia mulai melantun puisi. Sebenarnya bukan rayuan. Tapi kata-kata yang keluar dari mulutnya selalu berbau roman pujangga baru.

“Maksudnya?” tanyanya.

“Ya, nikahi saja cerdasku. Kau pasti suka jika bercinta dengan logikaku,” jawabku.

“Ah …blank nih! Logikaku saja tertinggal di rumah,” tukasnya.

“Oh, begitu, yah? Lantas dengan kacamata apa kau bisa katakan kalau aku orang cerdas?” tanyaku.

“Mungkin kacamata hati.” jawabnya.

“Ah!? Stop!” Aku memekik lirih. Curiga. Tak percaya. Bosan dengan jawaban puitis.

“Kenapa?” tanyanya.

“Ada angin masuk lewat jendela. Ia menggodaku bagai seorang pria, mempermainkan rambutku. Aku jadi geli. Persis dengan rayuanmu itu. Gelinya menggoda dan membuatku ingin tertawa,” jawabku.

“Kau menghindar.” Tuduhnya tiba-tiba.

Hidup memang penuh dengan kejutan dan tiba-tiba. Aku pun secara tak sengaja bertemu dengan lelakiku. Ia kini bekerja sebagai guru di sebuah desa. Aku pun seolah mengikutinya, bekerja di sebuah desa. Dan menjadi guru pula. Dulu kami adalah teman yang sangat baik. Sebuah kisah klasik, dan kami saling mencintai. Jika namanya disebut, namaku tak lupa dikaitkan. Ketika aku berjalan sendirian, orang-orang akan bertanya, “Dimana lakimu?” Ya. Aku adalah perempuan sekaligus wanitanya. Dan ia Lelakiku. Meski sudah mengikat janji untuk selalu bersama, fate and destiny berkata beda. Perbedaan nasib memisahkan. Ia ke kota Atrakaj dan aku ke Atrakaygoy. Seyogyanya ia masih jejaka di pulau besar itu. Tapi kabar berkata lain. “Aku menikah.” Dengan nada putus asa, aku terpaksa menerima pinangan orang lain yang dulu kutunda karena dirinya.

***

Pertemuan kembali atau boleh kusebut sebagai perpanjangan kebetulan ini membahagiakan stupid cupid diantara kita. Pertemuan rahasia beberapa kali kami lakukan. Tapi sungguh, tak ada pertemuan saliva kami lakukan. Apalagi percampuran cairan hina. We just sit and sad. Weep in wait.

Seperti sore ini, ia nampak sibuk dengan lipatan buku-bukunya. Aku memekik lirih persis yang kulakukan tadi. “Ah!”

“Tidak. Aku tidak menghindar.” Jawabku tegas.

“Tapi kenapa kelihatan seperti menghindar, ya?” tanyanya lagi.

Pertanyaan yang sama dan begitu menggangguku. Aku sama sekali tidak menghindar. Dia saja yang kurang tenaga.

“Kutukan! Kutukan yang membuatku seolah-olah menghindar. Kutukan yang membuat kita saling mengenal sejak dulu hingga kini, tapi tak mungkin saling memiliki,” jawabku pedih.

“Apakah karena kau nihilisme, dan aku adaisme?” tanyanya sedikit memelas.

“Bukan,” jawabku

“Lantas?” tanyanya.

“Karena seorang lelaki tambun telah terlebih dulu menindihiku tiap malam. Namanya Suami. Aku terpaksa menerima kutukan ini. Demi mendapatkan apa yang pak Kyai bilang sebagai Pahala. Kau tahu apakah pahala itu?” tanyaku.

“Apakah ia setara dengan puisi?” tanyanya.

“Mungkin. Bagiku iya. Entah kalau untuk yang lain. Sama halnya dengan puisi, aku pun hidup untuk menghisap untaian kata yang tertumpah dari bibirmu. Aku kini harus menghisap bibir Suami kapanpun ia minta. Kalau aku menolak, namanya bukan Pahala. Tapi Laknat.” jawabku.

“Lalu?” tanyanya – lunglai.

“Bodoh! Seharusnya kau bertanya, ‘maukah kau menikahiku?’” jawabku.

“Tapi …,” kata-katanya tertahan.

“Ya sudah. Aku pamit dulu. Kau tahu apa persamaannya antara cinta dengan bus? Sama-sama melalui sebuah penantian. Lalu, ada datang dan pergi. Lalu ada pertemuan dan perpisahan. Aku milik pria tambun kini. Sebuah anugerah bernama kutukan. Tak seorang pun mampu membebaskanku. Jadi, percuma saja aku merindukan angin yang akan membawaku terbang,” jawabku menyudahi pembicaraan.

Aku bosan menunggu ketidakpastian. Dan pria paling ahli dengan begituan.

Tiada lagi percakapan.

Dan Lelakiku pun kembali ke rimbanya.

Aku pun kembali ke sangkar emasku. Pulang ke rumah, melayani suami yang sudah disediakan orang tua sejak aku berumur 15 tahun.

Besoknya, aku kembali menemuinya di tempat yang sama. Ia pun nampak tengah menungguku. Tubuh tegapnya itu selalu kurindu. Sering kukatakan bahwa kulit putihnya itu cocok dengan kuning langsat tubuhku. Dan jemari tangannya yang dulu kerap membelit tubuhku itu begitu ranum karena diasah pelukan gitar. Kini bukan gitar saja yang ia peluk. Tapi seorang wanita bernama Istri. Dan istri itu bukanlah aku. Ya, orang mengatakan bahwa aku selingkuh. Salah, bukan cuma aku saja.

“Aku ingin kau membunuhnya. Merobek segala kisah yang kau lakukan dengannya. Membakar kumpulan puisi yang pernah kau berikan pula padanya. Merusak hard disk di otakmu dan segala cerita memuakkan tentang dirinya. Hal yang ingin kulakukan adalah membunuh segala kenanganmu dengannya. Dan yang terakhir, aku ingin kau membunuhnya. Kau bilang, ‘matahari menulis harap semenjak pertemuanmu dengannya.’ BLAH! Aku muak mendengarnya. Lantas apakah matahari masih juga menulis harap semenjak pertemuan kita? Dan Taman Partere sialan itu adalah tempat dirimu bertemu dengannya. Lalu bagaimana dengan Taman Sunyi tempat kita bertemu? Tidakkah kau ingin mengabadikannya? Aku ingin kau men-delete habis kenanganmu dengannya. Lalu membersihkan tempat sampah di mana kenangan itu dibuang. Dan kau persilakan aku dengan nyaman untuk menempati benakmu yang temaram. Tapi … tidak? Tapi kau akan selalu mengingatnya, bukan?”

Sunyi. Ia tertunduk, diam.

“Bunuh saja dia!” kataku tiba-tiba.

“Kenapa? Apa salah dia?” tanyanya.

“Pokoknya bunuh saja dia!” jawabku.

“Tidak mau!” Ia menjawab.

Bandel.

“Bunuuuuuuh!”, teriakku.

“Tidaaaaaaak!” Kau pun berteriak.

“Ahh …!!! buunuuuuuuuuuuuuuh!!!” teriakku lebih kencang.

“ARGHH … tidaaaaaaak!” Kau pun berteriak lebih kencang lagi.

“Kumohon, please … bunuhlah dia.” Pintaku lirih. Terisak tangis.

Tapi kau terdiam. Membisu. Lunglai. Darah itu adalah satu-satunya bukti kau mencintaiku. Kalau aku tak mampu memilikimu, maka tak seorangpun dapat.

Valhalland, tepian dini hari, 12 Oktober 2005 - 7 Juni 2006

KANGEN MEREKA!!

Tuesday, June 6th, 2006

Tanggal 5 Juni 2006, dengan segala keberuntungan dan ketetapan hati melawan Vonnegut yang mengatakan bahwa ‘semua orang, hidup atau mati, semata-mata hanyalah kebetulan.’ Tidak! Bahwa tidak ada sebuah kebetulan yang mempertemukan antara aku dengan mereka. Dan kuberangkat untuk …. ini. Tidak ada kata-kata yang bisa dituang … sedikit image & text akan mengutarakan ku …

http://aidavyasa.multiply.com/photos/album/13

:: SILENT GARDEN ::

Friday, June 2nd, 2006

Kawan, kebanyakan jalan yang dilalui orang itu mudah, tapi jalan yang kupilih itu sulit. Yang kuinginkan dalam hidup ini hanya keselarasan antara diriku dengan diri mereka yang selalu bersiteru. Mengapa hal ini begitu sulit?

Andaikan mungkin, aku akan kembali ke masa silam, merambah lebih jauh lagi ke belakang, untuk kemudian kembali dan menceritakan pengalamanku sewaktu dalam rahim mama. Lalu kisah-kisah tahun pertama dan mungkin ke masa lampau nenek moyangku. Tapi ini belum memungkinkan. Setidaknya tidak menjelang November. Aku ingin memanjangkan umurku sedikit lagi di bulan itu. Tanggal 11!

ENTER :: SILENT GARDEN ::